Sabtu, 25 Februari 2017

Melipat Jarak, Merepih Alam

mungkin sebagian dari kalian akan bertanya-tanya, judul blog ini apa maksudnya
maka ijinkanlah saya sejenak menerangkan kenapa memilih judul "Melipat Jarak, Merepih Alam"
tujuh bulan yang lalu saya dekat dengan seorang laki-laki sayangnya kami memiliki banyak sekat yang siap meluluhlantakan rasa kami yang sedia terjaga 
waktu, jarak, kesibukan, karier dan berbagai macam hal lainnya menjadi pengalang bagi kami
begitupun dengan masalah-masalah yang muncul. Akhirnya kami memutuskan untuk bersabar sepanjang hari dan bertahan dari hari ke hari. Waktu itu ia berkata "Berapa kali dan berapa lamapun itu, apa engkau berpikir bahwa aku akan menyerah?". Kalimat yang menggetarkan hatiku. Akhirnya kutakatakan padanya, "Apa kamu tidak merasa lelah?". Dia menjawab, "lelah itu manusiawi, namun semakin kita bersabar semakin tinggi derajat toh". 
Waktu demi waktu berlalu dan sayapun kembali menjalani rutinitas sebagai mahasiswa dengan seabrek tugas yang membelenggu. 
Saya jarang pulang kampung, namun ia kerap pulang kampung.
Saya kuliah di Surabaya dan dia kuliah di Malang. 
Baiklah, jarak mulai menyekat kami. Waktu juga seolah andil memberi batas yang mengaburkan imaji rasa kami. 
Setelah tiga minggu tak bersua, kami bertemu tapi tidak benar-benar bertemu. Kami hanya saling pandang dari kejauhan. 
Saya menatapnya, dia menatap saya dengan sangat dalam yang menyentuh telak hati saya. Saya ingin berteriak memanggil namanya, namun lidah saya keluh sebab keadaan yang terbatas. Orangtua saya belum mengijinkan saya menjalin hubungan dekat dengan seorang laki-laki meski kebanyakan teman saya adalah laki-laki. Meski demikian saya pernah nakal dan akhirnya terpaksa dua kali menjalani hubungan dengan orang yang tak pernah saya cintai yang kini telah menjadi mantan kekasih saya. Yang pertama saya pacari saat saya duduk di bangku SMA. Dia adalah seorang guru olahraga dan kebetulan menjadi pembina ekstrakurikuler volly di SMA saya. Yang kedua adalah kakak tingkat 2 tahun di atas saya. Dia anak pendidikan bsi, Unesa. Selain menjadi mahasiswa, ia adalah seorang travel agency. 
Saya tak menampik mereka karena memang keduanya pernah menjadi bagian hidup saya. 
dan mereka adalah pembelajaran terbesar untuk hidup saya agar tak memaksakan rasa jika memang saya tak memiliki perasaan apapun terhadap mereka. Sebab cinta yang dijalani dengan keterpaksaan akan berujung pada kesia-siaan. 
Setelah putus hubungan dengan mantan saya yang kedua, saya dekat dengan seseorang yang selama ini saya damba namun saya tak pernah berani mendekatinya. Dia amat dekat dengan saya. Sayangnya ada jarak terbentang di antara kami yang akhirnya bisa kami dobrak tujuh bulan yang lalu. 
Setelah sama-sama sibuk dan jelas segala sesuatunya butuh penyesuaian, dia menuliskan kalimat "karang, belukar, jurang,palung entah apa lagi nanti. Melangkah sajalah". Saya tak yakin itu diperuntukkan untuk teman-temannya, saya merasa yakin itu untuk saya. Karena memang saat berada di jarak yang dekat kami tak bisa lekat justru kian tersekat.
Aku membalasnya "sabar saja dan tunggu waktu memberi jawabnya". Dia tak berhenti dan menimpali "waktu adalah:". Karena lelah kutuliskan " Melipat jarak". ia lalu membalas "Merepih alam". Sekian cerita singkat tentang judul "Melipat Jarak, Merepih Alam". 
Yang jelas, siapapun bisa masuk ke sini, membaca tulisan di sini, mengomentari tulisan di sini. 
Marilah ciptakan sejarah untuk diri kita sendiri. Saya menciptakannya dan Anda turut andil menjadi bagiannya. Semoga Blog ini akan bermanfaat bagi semua pihak. Amin. 
Salam Dll untuk semua :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar